Showing posts with label inspirasi. Show all posts
Showing posts with label inspirasi. Show all posts

Tuesday, November 15, 2011

Keranjang Dharma


Kamu percaya sama yang namanya keranjang dharma? Saya percaya. Saya percaya bahwa semua usaha manusia, semua kebaikan perorangan, dihitung dan terkumpul dalam sebuah tempat suci yang hanya-Tuhan-yang-tahu. Manusia -beberapa- menamainya Keranjang Dharma. Walaupun namanya keranjang, tapi saya tidak yakin kalau bentuknya seperti 'keranjang' seperti yang kita kenal di sini. Saya percaya bahwa setiap orang memiliki keranjang dharmanya masing-masing. Keranjang dharma ini memuat semua tetes keringat usaha kita, setiap butir ketulusan hati kita saat berbuat kebaikan, setiap remah pertolongan kita kepada orang lain yang membutuhkan, dan mengembalikannya kepada kita pada saat yang tepat.

Konsepnya begini, setiap usaha, doa, kebaikan kita, satu per satu masuk dalam keranjang dharma tadi. Sedikit demi sedikit. Tidak ada satu pun kebaikan yang tidak ditampungnya. Semua diperhitungkan, sekecil apapun itu. Keranjang dharma yang kita punya perlahan demi perlahan mulai terisi penuh oleh semua usaha dan kebaikan kita, menunggu untuk dibalas. Hingga akhirnya keranjang dharma itu penuh hingga mencapai permukaan. Namun bukan berarti keranjang itu tak mampu lagi menampung hal-hal baik yang kita lakukan. Ketika ia sudah penuh, dan kita tetap berusaha, melakukan hal baik, maka saat itulah keranjang yang sudah penuh itu luber, dan tumpah. Saat keranjang dharma kita tumpahlah saat kebaikan kita terbalaskan, berbuah manis pada kita. Saat hidup kita yang biasa penuh dengan halangan menjadi secara tiba-tiba mudah dan berjalan lancar seperti ada tangan tak terlihat dari atas yang menyingkirkan halangan-halangan tersebut bahkan tanpa butuh usaha lebih dari kita. Saat itu yang saya percayai saat keranjang dharma itu tumpah, karena terlalu penuh dengan usaha dan kebaikan kita.

Kamu percaya dengan yang namanya keberuntungan? Saya tidak. Saya hanya yakin bahwa ketika terjadi suatu hal yang disebut 'keberuntungan' tak lain hanyalah merupakan saat dimana keranjang dharma kita tumpah. Kebaikan yang kita berikan pada orang lain secara tak diduga kembali lagi pada kita setelah bertransformasi dalam bentuk yang berbeda.

Contohnya seperti ini, pernah kamu sering membantu teman belajar dan ketika kamu mengalami hari yang buruk dan kamu lupa belajar untuk ujian besok namun secara mendadak ujian besok tidak jadi? Atau pernah kamu menemani teman yang sedang sedih dan suatu waktu saat kamu menunggu bikun tiba-tiba ada teman kamu yg lain naik motor mengajak bareng? Atau mungkin pernah suatu waktu kamu memberi uang pada pengemis dan tahu-tahu besoknya kamu diberi uang lebih oleh ayahmu untuk jajan? Apakah itu keberuntungan? Saya rasa bukan. Saya sangat yakin bahwa saat-saat itu adalah saat keranjang dharma kita sudah terlalu penuh dan tumpah. Saat usaha dan kebaikan yang sering kita berikan pada orang lain terbalaskan pada kita pada akhirnya dengan cara yang sama sekali tidak kita duga.  

Maka dari itu, mari kita terus berusaha dan berbuat kebaikan serta memberikan pertolongan untuk membuat keranjang dharma kita semakin penuh. Jangan takut untuk merugi saat kita berbuat baik. Karena Tuhan sudah mempersiapkan balasan yang lebih manis dan lebih indah dengan cara yang dia suka, saat kita bahkan tidak mengharapkan apa-apa.

p.s.: Tulisan ini terinspirasi dari novel 5 cm - Donny Dirghantoro

Friday, September 16, 2011

Bintang Laut


Hari menjelang petang di suatu pantai. Pantai tampak kotor. Bukan, kotornya pantai ini bukan karena sampah yang berserakan, melainkan karena banyaknya bintang laut yang terdampar di pantai pasir ini, terbawa ombak dari laut. Di kejauhan nampak seorang anak sedang sibuk, tekun melakukan kegiatan yang sedang dilakukannya. Ternyata si anak memunguti bintang laut tersebut satu per satu, lalu melemparkannya ke lautan, kemudian mengulanginya. Begitu seterusnya hal yang dia lakukan, memungutnya, lalu melemparkannya. Namun pantai tersebut tak kunjung bersih karena pantainya terlalu luas, bintang lautnya terlalu banyak, dan anak itu terlalu kecil. Walaupun begitu, si anak tetap bersemangat melempar bintang laut tersebut ke lautan.

Datanglah seorang tua, mendekati si anak itu. Pak tua itu keheranan, apa yang sedang dilakukan anak kecil itu. Pak tua itu berpikir, betapa bodohnya anak kecil tersebut membersihkan pantai yang begitu luas dan begitu kotor, karena esok hari pasti pantai tesebut akan kotor lagi, akan ada banyak lagi bintang laut yang terdampar. Pak tua pun berkata pada si anak tersebut. Percuma kau membersihkan pantai ini, Nak. Pantai ini terlalu luas, kau terlalu kecil, bintang lautnya terlalu banyak. Lagipula, esok hari pasti pantai ini akan kotor lagi.

Anak itu tersenyum, dan menjawab dengan bijak. Saya bukan sedang membersihkan pantai, Pak Tua. Tapi saya sedang menyelamatkan para bintang laut ini, mengembalikan mereka ke lautan. Apa yang saya lakukan mungkin tidak akan berdampak apa-apa pada pantai ini, tapi apa yang saya lakukan pasti akan sangat berarti bagi para bintang laut ini.
  

Cerita diatas bisa kita ambil hikmahnya untuk merubah pola pikir kita dalam berbuat kebaikan. Yang menjadi fokus anak tersebut adalah bagaimana agar dia bisa membantu bintang laut kembali ke lautan, pantai yang kemudian bersih adalah reward-nya. Analoginya seperti ini; Angka kemiskinan di Indonesia cukup tinggi. Masih banyak warga Indonesia yang masih kurang beruntung, masih hidup di bawah garis kemiskinan. Hal tersebut, janganlah membuat kita ragu dalam membantu mereka yang membutuhkan. Janganlah berpikir, apa yang saya lakukan tidak akan berdampak besar terhadap angka kemiskinan di Indonesia, yang kurang mampu tetap saja banyak. Tapi berpikirlah, saya harus membantu orang kurang beruntung itu, karena apa yang saya lakukan pasti akan sangat berarti bagi orang yang membutuhkan itu. Hal-hal lain pun bisa dianalogikan sama seperti diatas.

Ayo kita mulai berbagi dan membantu sesama. Apa yang kita lakukan mungkin tidak akan membuat perubahan besar, tapi apa yang kita lakukan pasti akan sangat berharga bagi mereka yang kita bantu. FMG

Nb: Cerita maupun gambar bintang laut diatas bukanlah asli buatan penulis. Namun artikel ini adalah hasil karya penulis sendiri.


 " If you can't feed a thousand, then feed just one "
-- Mother Theresa

Saturday, August 27, 2011

A letter from Bovenkarspel



disaat dunia berjalan dengan berantakan;
rasa takut dan khawatir berserakan di jalan;
orang-orang seolah pergi, cuma ninggalin bayang-bayang.
saat Fadlan bahkan pengen nonjok figur yang Fadlan liat saat Fadlan ngaca.
saat mimpi dan cita-cita bukan lagi harapan, tapi beban dan paksaan.
saat fadlan bahkan nggak tahu tempat mana yang sebenarnya jadi tujuan pulang,
Fadlan masih punya aku, sahabat kamu.

Surat itu sampai ke rumah saya, dari sebuah kota nun jauh di Belanda sana, Bovenkarspel namanya.
Seorang sahabat yang bahkan secara geografis sangat jauh namun masih tetap ingat akan saya dengan mengirimkan surat dalam bentuk fisik, bukan elektronik.

Kata-kata ini akan selalu, selamanya, saya inget dan pahat baik-baik dalam hati dan pikiran saya.
Ya, sebagai tanda pengingat bagi saya, bahwa saya selalu punya seseorang yang membimbing saya dari depan, mendorong saya dari belakang, dan berjalan bersama saya bersebelahan.

Terima kasih, sahabatku :)

Friday, August 26, 2011

My Masterpiece

p.s.: Catatan ini sebelumnya pernah diposkan di jejaring sosial facebook saya, dan mendapatkan apresiasi yang sangat baik dari teman-teman saya. Banyak hal telah berubah sejak saya membuat dan mem-publish catatan ini, namun catatan ini tetap memiliki tempat yang khusus di hati saya. So, here it is, my masterpiece.

karena kami, bukan cuma segenggam angan tak bertujuan

Bogor menyambut datangnya pagi,
27 April 2009

(bintang-bintang merayu, teratur dalam kesemrawutannya. diiringi langit yang membiru, membiru dalam kepekatannya).


pagi ini
saya duduk di puncak tertinggi rumah saya,
terinspirasi akan sebuah cerita

"I have a dream"
kata-kata ini dilontarkan Marthin Luther dalam sebuah pidatonya dahulu kala
beliau bermimpi, bahwa suatu saat orang kulit hitam akan duduk berdampingan bersama orang kulit putih.
dulu hal itu mustahil, karena perbedaan ras yang saat itu menonjol, atau lebih tepatnya ditonjol-tonjolkan.
dan orang-orang hanya menganggapnya pemimpi di siang bolong.

waktu berlalu dan berpihak pada sang pemimpi.
entah bagaimana prosesnya, mimpi itu terwujud menjadi realita.
dan sekarang, bahkan ada orang kulit hitam menjadi pemimpin bagi bangsa kulit putih, bukan?

ini nyata
bukan mustahil, mimpi di siang bolong berubah menjadi fakta di pagi buta.
"hidup ini bukan rangkaian kemustahilan, kan?" (*PRIE GS)

dan di bumi yang sama ini kami berpijak,
di kolong langit yang sama kami bernaung.
kami punya jutaan mimpi, dan milyaran angan.
yang tidak hanya kami citrakan dalam pejaman mata,
namun juga kami usahakan dalam realita.
angan kami tak serupa, namun beraneka.
mimpi ini kami gantungkan, tinggi, setinggi tangan kami bisa mengaitkannya,
kami tidak pernah gentar,

dan teman kami pernah bilang,
"gantungkan cita-cita kamu setinggi langit, setidaknya kalau kamu jatuh, kamu pernah melihat bintang" (*Deno Yudha)

namun tak jarang kami terjatuh,
terjatuh bahkan saat kami berada pada titik kulminasi.
kami terjatuh sejatuh-jatuhnya, sesakit-sakitnya.
ya, kami memang melihat bintang itu, menari indah dalam konstelasi,
namun tetap saja rasanya sakit,

dan disitulah kami berada saat itu,
tersungkur dalam lembah kesuraman,
tenggelam dalam danau kekecewaan,
terkubur dalam pasir ketidakpastian.

kami penat, kami jengah, kami marah.
dan ada saat kami memutuskan untuk berpaling,
tapi itu malah membuat kami tenggelam makin dalam,
membuat kami terdorong jauh dari tangan Tuhan,

angin berbisik, semesta berucap
"bukankah Allah tidak akan merubah nasib suatu kaum, melainkan kaum itu sendiri yang merubahnya?"(*Q.S. Ar-Ra'du, 13;11)

(bebintang perlahan undur diri, disubstitusi oleh jingga yang menyeruak)

diri ini memang belum sejatinya tangguh
raga ini memang belum sepenuhnya utuh
hati ini masih begitu rapuh
namun kami harus bangun, bangun dari ketidakberdayaan kami,
untuk melihat senyum tertoreh pada orang yang kami kasihi
untuk melihat dada yang membusung pada orang yang kami sayangi

kami tidak ingin,
hanya sekedar menjadi prolog pada opera tak bernuansa,
atau menjadi preambule pada prosa tak beralinea,
apalagi hanya sekedar menjadi intro pada musik tanpa nada.

dan kami pun bangkit,
kami menolak untuk pasrah, membantah untuk menyerah, dan berharap dengan gairah.

"Our greatest glory is not in never falling, but in rising everytime we fall" (*Confucius)

bukankah tidak ada yang namanya berhasil, jika kamu tidak pernah gagal.
ya, kita hanya harus terus berpikir, terus bermimpi, dan terus berlari untuk mengejarnya
tidak peduli kami hanya bisa menghitung satu ditambah satu sama dengan dua,
atau kami telah bisa membedakan antara berpikir dengan otak atau berpikir dengan hati
kami percaya
"kemampuan manusia itu ada batasnya, namun usahanya tidak" (*Ismi Nurhayati)

bukankah kelebihan manusia adalah karena manusia punya akal, pikiran, dan cita-cita?
tidak seperti hewan yang berputar dalam siklus yang itu-itu saja,
hari ini makan, besok dimakan. hari ini kawin, besok melahirkan.
lantas jika kita tidak berpikir dan bercita-kita, kita mau disebut apa?
hanya seonggok daging yang punya nama?

dan sekarang, yang kami butuhkan adalah ini
"Biarkan keyakinan kamu, 5 centimeter menggantung mengambang di depan kening kamu.
Dan sehabis itu, yang kamu perlu cuma kaki yang akan berjalan lebih jauh dari biasanya,
tangan yang akan berbuat lebih banyak dari biasanya,
mata yang akan menatap lebih lama dari biasanya,
leher yang akan lebih sering melihat ke atas,
lapisan tekad yang seribu kali lebih keras dari baja,
dan hati yang akan bekerja lebih keras dari biasanya,
serta mulut yang akan selalu berdoa.
Dan kamu akan selalu dikenang sebagai seorang yang masih punya mimpi dan keyakinan serta mengejarnya,
bukan orang biasa-biasa saja tanpa tujuan, mengikuti arus dan kalah akan keadaan"

(*5 cm, Donny Dirghantoro)

dan pada ujungnya, biar Tuhan yang berkarya,
"manusia itu wajib berusaha, tapi tidak wajib untuk berhasil" (*Muhammad Azhar)

(matahari pun menyapa pagi)

dan disini, saat ini, dibawah siraman mentari pagi
kami bersaksi, bahwa kami akan terus berlari meraih angan dan mimpi,
berlari, sejauh kaki kami masih bisa menyentuh bumi.
sebanyak keringat kami masih bisa membasahi,
dan berlari, secepat pikiran kami masih kuasa berrotasi.

just beat your best, then let God play the rest.

we'll fight, then we will always win (*mereka yang percaya, bahwa 'tidak mungkin' itu tidak pernah ada)

ya, kami percaya kami bisa.

karena kami, bukan cuma segenggam angan tak bertujuan..


(sebuah catatan yang dibuat menjelang pagi, di atap genting tanpa alas kaki, bermandi cahaya bintang)