Monday, August 5, 2013
Love Letter Series - To The Girl on My Twitter Timeline
Hello!
Or should I say, “Hola!”, since Spanish is the language you’re dying to expert on. It’s actually funny to see how often you post your tweets in Spanish while I don’t see anyone who would bother to respond to those Spanish expressions you tweeted. It’s not hard to guess that Madrid or Barcelona must be the city you are wishing to step your feet on, and visiting some historical places is something you won’t miss out once you’re there, no?
You may be wondering why I know such little details of yours while I am not even your friend, colleague, or even acquaintance. Moreover, you must not know me since we haven’t even met. And just now I realized how rude I am not to introduce myself first.
Well, basically I am one of your followers on twitter. My friend showed me your account when you made a tweet series regarding how awesome the newest film of Christopher Nolan was. My friend did that because he knows I’m an avid fan of Christopher Nolan’s pieces myself. I started to follow you then, and guess what? I think I have fallen in love with you ever-since.
I am basically in love with how you tweet with such positive energy by always adding some cute little smileys at the end your tweets. I am surprisingly in love with how you brilliantly respond to today’s happening controversy. I am unintentionally in love with how you always tweet passionately about things that make you feel alive; about movies, kids, sunset, ice cream, and people. Most of all, I am deeply in love with how that gorgeous and heartwarming smile of yours never vanish from your peaceful face.
You usually change your avatar on Monday morning with you wearing your work dress ensemble in it. I don’t know your reason but perhaps it’s because you like to start your week with some sort of a new spirit and contentment. Instead of twitpic-ing it, you prefer to describe your lunch-slash-dinner in sentences complete with the whole detail. My heart’s pounding in curiosity at the end of every month, wondering whether you’ll tweet some gratitude or some disappointment regarding what your boss would say on your monthly work evaluation. I smile slightly too wide whenever you make your own silly review after you’re done watching a movie. Also I think my heart skipped a beat or two when you replied to my mention that one time.
I genuinely think I love you at the first sight. But scratch that. How can I be in love with you at the first sight when we haven’t even shared any sight at all?
This letter may sound creepy. The fact that we are not related whatsoever yet I know so much about you makes me sound like an obsessive stalker. Trust me I’m not. Let just say I am your virtual secret admirer. Above of all, a dosage of blissfulness in your every tweet brings happiness in me too. Believe me, it’s contagious. If there’s a lesson that you indirectly teach me is that we are actually luckier and could be happier than we think we are. We just sometimes choose not to.
I hope this is not inappropriate. Just so you know, I almost died of excitement when something shocking happened today. You followed me! I don’t expect this to make sense, but, thank you. Thank you for being you.
I guess that is all.
Sincerely,
The Man You’ve Just Followed Today
(caution: this is fictional. not one sentence of this letter based on my true story)
P.S.: The credit goes to Afutami, since I develop the Love-Letter-Series idea from her. Visit her love letters on her wordpress. Cheers :D
Labels:
Love,
Love Letter
Wednesday, January 30, 2013
10 Januari 2013, A Day to Remember (Part 1)
Ada jeda ketidakpercayaan saat pintu ini saya buka. Setitik demi setitik perasaan perlahan meluruh, meninggalkan saya dalam segenap memori tentang serangkai masa. Saat titik kulminasi ini menghantui saya, mentranformasi saya dalam fasa metastabil. Dan bersamaan dengan terbukanya pintu ruangan ini, saya selesai.
Hanya saya dan Tuhan yang tau betapa 10 Januari ini sudah memahat jejaknya di dalam sel otak saya. Perasaan ini terlalu berharga jika hanya dibilang membahagiakan, karena sesungguhnya ini lebih dari itu.
Seminggu sebelum 10 Januari datang, sahabat saya Niken mengingatkan dengan sangat bijak bahwa suatu keberhasilan bukanlah hanya manifestasi dari usaha horizontal kita terhadap semesta, tetapi juga usaha vertikal kita terhadap Yang Menciptakannya. Saya terpekur setiap lewat tengah malam selepas nasihat Niken, memohon pada Sang Pemberi Kemudahan untuk memberikan saya keberdayaan untuk menjalani 10 Januari ini dengan izinNya, dengan ridhoNya. Ibu, Bapak, dan kedua kakak saya menjadi orang yang paling tak bosan saya mintai doa, saya minta restunya. Mereka pun dengan cinta tak bersyaratnya senantiasa mengalirkan doa untuk saya, memberi saya pesan untuk tetap tenang, bahkan hingga membantu saya berpuasa.
Pelbagai doa juga datang saat saya menginjak umur ke-22 pada lima hari sebelumnya. Tak lupa saya mintakan doa pada semua teman, rekan, dan sahabat untuk kelancaran dan kemudahan 10 Januari ini. Saya percaya bahwa semakin banyak yang mendoakan, maka semakin besar pula probabilitas doa itu akan terkabul. Maka hampir semua yang saya kenal saya minta untuk mendoakan saya.
Tumpukan buku, materi, dan catatan-catatan yang mengendap di pojokan lemari mulai kembali saya jamah. Mencoba menggali kembali ilmu yang terkadang sudah terkubur tak menumbuh bekas. Mata saya terpejam lebih sedikit dari biasanya. Dalam mimpi pun 10 Januari ini selalu datang. Seolah memberi peringatan untuk menyiapkan diri sebaik mungkin, meskipun waktu, usaha, dan waktu tidur yang harus dikorbankan. Hidup saya tidak tenang.
Hingga akhirnya 10 Januari ini datang juga. Luapan doa dan semangat mengisi jejaring sosial, hinggap pada telepon seluler, datang melalui panggilan suara. Berbekal penampilan luar biasa rapi saya mencium tangan Bapak dan Ibu saya. Bergegas menuju hari pembuktian. Lembaran tugas akhir ini saya kaji kembali, meskipun saya tau tak akan ada gunanya. Jantung saya berdegup terlalu kencang. Pikiran saya terlalu penuh dengan kemungkinan pertanyaan yang mungkin terujar.
Giliran saya pun tiba. Saya menghubungi Ibu saya sekali lagi, memohon doa restu terakhir kali untuk memasuki ruang juang tempat saya akan mempertahankan tugas akhir yang saya perjuangkan selama tujuh bulan. Semua kawan yang ada saat itu menyemangati saya. Di dalam ruangan sudah tampak pengajar-pengajar luar biasa yang kebaikan dan keikhlasannya dalam mengajar hanya bisa dibalas oleh Yang Maha Pemurah. Layar proyektor menampilkan presentasi yang akan saya bawakan. Kali ini hanya tinggal saya. Tinggal saya yang harus berjuang membuktikan gelar sarjana ini bisa saya jemput hari ini, saat ini, pada momen ini.
Bismillahhirrahmaanirrahiim
Hanya saya dan Tuhan yang tau betapa 10 Januari ini sudah memahat jejaknya di dalam sel otak saya. Perasaan ini terlalu berharga jika hanya dibilang membahagiakan, karena sesungguhnya ini lebih dari itu.
Seminggu sebelum 10 Januari datang, sahabat saya Niken mengingatkan dengan sangat bijak bahwa suatu keberhasilan bukanlah hanya manifestasi dari usaha horizontal kita terhadap semesta, tetapi juga usaha vertikal kita terhadap Yang Menciptakannya. Saya terpekur setiap lewat tengah malam selepas nasihat Niken, memohon pada Sang Pemberi Kemudahan untuk memberikan saya keberdayaan untuk menjalani 10 Januari ini dengan izinNya, dengan ridhoNya. Ibu, Bapak, dan kedua kakak saya menjadi orang yang paling tak bosan saya mintai doa, saya minta restunya. Mereka pun dengan cinta tak bersyaratnya senantiasa mengalirkan doa untuk saya, memberi saya pesan untuk tetap tenang, bahkan hingga membantu saya berpuasa.
Pelbagai doa juga datang saat saya menginjak umur ke-22 pada lima hari sebelumnya. Tak lupa saya mintakan doa pada semua teman, rekan, dan sahabat untuk kelancaran dan kemudahan 10 Januari ini. Saya percaya bahwa semakin banyak yang mendoakan, maka semakin besar pula probabilitas doa itu akan terkabul. Maka hampir semua yang saya kenal saya minta untuk mendoakan saya.
Tumpukan buku, materi, dan catatan-catatan yang mengendap di pojokan lemari mulai kembali saya jamah. Mencoba menggali kembali ilmu yang terkadang sudah terkubur tak menumbuh bekas. Mata saya terpejam lebih sedikit dari biasanya. Dalam mimpi pun 10 Januari ini selalu datang. Seolah memberi peringatan untuk menyiapkan diri sebaik mungkin, meskipun waktu, usaha, dan waktu tidur yang harus dikorbankan. Hidup saya tidak tenang.
Hingga akhirnya 10 Januari ini datang juga. Luapan doa dan semangat mengisi jejaring sosial, hinggap pada telepon seluler, datang melalui panggilan suara. Berbekal penampilan luar biasa rapi saya mencium tangan Bapak dan Ibu saya. Bergegas menuju hari pembuktian. Lembaran tugas akhir ini saya kaji kembali, meskipun saya tau tak akan ada gunanya. Jantung saya berdegup terlalu kencang. Pikiran saya terlalu penuh dengan kemungkinan pertanyaan yang mungkin terujar.
Giliran saya pun tiba. Saya menghubungi Ibu saya sekali lagi, memohon doa restu terakhir kali untuk memasuki ruang juang tempat saya akan mempertahankan tugas akhir yang saya perjuangkan selama tujuh bulan. Semua kawan yang ada saat itu menyemangati saya. Di dalam ruangan sudah tampak pengajar-pengajar luar biasa yang kebaikan dan keikhlasannya dalam mengajar hanya bisa dibalas oleh Yang Maha Pemurah. Layar proyektor menampilkan presentasi yang akan saya bawakan. Kali ini hanya tinggal saya. Tinggal saya yang harus berjuang membuktikan gelar sarjana ini bisa saya jemput hari ini, saat ini, pada momen ini.
Bismillahhirrahmaanirrahiim
Labels:
about me,
campus life,
sahabat