Showing posts with label indah. Show all posts
Showing posts with label indah. Show all posts

Tuesday, October 23, 2012

Sunset


Sunset in Pulau Tidung, Kepulauan Seribu

Jejak-jejak jingga perlahan mulai menyusur langit. Meluas. Meretas batas. Kaki langit tersamar seolah melebur dalam satu dimensi. Bukan dimensi laut, bukan dimensi langit. Dimensi senja. Saya terpana.

Lingkaran cahaya melembut mengiba mata untuk menatap, dan terpikat. Hati mendadak melankolis, dan jiwa serentak romantis. Helaan nafas seolah mengekspirasi bukan hanya karbon dioksida, melainkan semua beban imajiner yang sepanjang hidup mengendap di kepala, di badan, di perasaan. 

Langit tidak berpesta sore ini. Hanya setajuk pentas biasa yang dilakoni setiap kali bumi berrotasi. Namun saya yang terbiasa akan ritme monoton alam bentukan manusia merasa tak cukup hanya berseru takjub, mengagumi khidmat, hingga mengucap kesucian Yang Maha Tinggi, akan potret semesta yang saya saksikan ini kali.

Another Shot of Sunset in Pulau Tidung, Kepulauan Seribu

Saya selalu bertanya mengapa manusia selalu terkesima akan matahari terbenam. Akan sunset. Seolah ia adalah suatu harta yang patut diburu dengan bekal ketebalan lensa dan keterampilan talenta. Betapa manusia kontan memuji, mengecap keindahan, merekam jejak dua dimensi, akan fenomena partikular ini. Hingga pada suatu masa sunset itu datang menyapa saya. Meninggalkan saya dalam pesona, dalam kata yang tak kunjung keluar lidah. Membuat saya mengerti.

Uraian warna jingga, dan sebaran sinar surya kala terbenam ini memang magis. Menjerat semua raga dalam decak kagum yang merefleksikan diri. Menyejukkan hati. Seolah berkata kehidupan memang keras, namun akan selalu ada yang melembutkan jika kamu sempat berhenti dan menatapi sekeliling. Menyadari tarian alam yang merehabilitasi jiwa. Membuatnya terlahir kembali. Deskripsi sederhana saya adalah, surya yang tenggelam kala senja ini, mewaraskan. Mewaraskan diri dari kegilaan yang sehari-hari kita konsumsi. Dari kegilaan dalam bentuk tenggat waktu yang mengejar, tanggung jawab yang menghinggapi, pekerjaan yang melambaikan tangan. Kesibukan artifisial. 

Saya beruntung bisa menghirup kewarasan ini walau sejenak, mengumpulkannya, mengkonversikannya menjadi energi untuk mengawali hari yang sama sekali baru.

Belaian angin, guncangan ombak, pelukan lautan, nuansa petang, peraduan surya, gradasi jingga, penantian pantai. Senja saya sempurna.

Ingin rasanya saya genggam momentum ini. Saya dekap erat, saya jaga, saya masukkan kantung. Menanggalkan semua rekam jejak, semua identitas yang membayangi, semua rasa yang membuncah, semata untuk mengabadikan keanggunan mentari kala senja ini dalam hati saya, menyimpannya dalam-dalam.



Untuk nanti saya habiskan.





Bersamamu.



Fadlan Mauli Gozali