Wednesday, August 31, 2011

KIRANA


by: myself


seperti mentari yang menari riang di atas pelangi,

seperti senja yang memijat langit dengan semburat jingga,

seperti nada yang melantun syahdu di ujung seruling bambu,

seperti warna yang mengurai cantik meski monokromatik,

seperti bintang yang berjingkat terang mencanda malam,

seperti hati yang sudah mati namun tak bisa beranjak pergi,

seperti tanah yang mendamba mesra rintikan pertama hujan,

seperti raga yang tak pernah lengkap jika rasa tak ikut serta,

seperti pagi yang tak sabar menanti surya datang menyapa,



seperti itulah aku mencintaimu,

Kirana.

Saturday, August 27, 2011

A letter from Bovenkarspel



disaat dunia berjalan dengan berantakan;
rasa takut dan khawatir berserakan di jalan;
orang-orang seolah pergi, cuma ninggalin bayang-bayang.
saat Fadlan bahkan pengen nonjok figur yang Fadlan liat saat Fadlan ngaca.
saat mimpi dan cita-cita bukan lagi harapan, tapi beban dan paksaan.
saat fadlan bahkan nggak tahu tempat mana yang sebenarnya jadi tujuan pulang,
Fadlan masih punya aku, sahabat kamu.

Surat itu sampai ke rumah saya, dari sebuah kota nun jauh di Belanda sana, Bovenkarspel namanya.
Seorang sahabat yang bahkan secara geografis sangat jauh namun masih tetap ingat akan saya dengan mengirimkan surat dalam bentuk fisik, bukan elektronik.

Kata-kata ini akan selalu, selamanya, saya inget dan pahat baik-baik dalam hati dan pikiran saya.
Ya, sebagai tanda pengingat bagi saya, bahwa saya selalu punya seseorang yang membimbing saya dari depan, mendorong saya dari belakang, dan berjalan bersama saya bersebelahan.

Terima kasih, sahabatku :)

Friday, August 26, 2011

My Masterpiece

p.s.: Catatan ini sebelumnya pernah diposkan di jejaring sosial facebook saya, dan mendapatkan apresiasi yang sangat baik dari teman-teman saya. Banyak hal telah berubah sejak saya membuat dan mem-publish catatan ini, namun catatan ini tetap memiliki tempat yang khusus di hati saya. So, here it is, my masterpiece.

karena kami, bukan cuma segenggam angan tak bertujuan

Bogor menyambut datangnya pagi,
27 April 2009

(bintang-bintang merayu, teratur dalam kesemrawutannya. diiringi langit yang membiru, membiru dalam kepekatannya).


pagi ini
saya duduk di puncak tertinggi rumah saya,
terinspirasi akan sebuah cerita

"I have a dream"
kata-kata ini dilontarkan Marthin Luther dalam sebuah pidatonya dahulu kala
beliau bermimpi, bahwa suatu saat orang kulit hitam akan duduk berdampingan bersama orang kulit putih.
dulu hal itu mustahil, karena perbedaan ras yang saat itu menonjol, atau lebih tepatnya ditonjol-tonjolkan.
dan orang-orang hanya menganggapnya pemimpi di siang bolong.

waktu berlalu dan berpihak pada sang pemimpi.
entah bagaimana prosesnya, mimpi itu terwujud menjadi realita.
dan sekarang, bahkan ada orang kulit hitam menjadi pemimpin bagi bangsa kulit putih, bukan?

ini nyata
bukan mustahil, mimpi di siang bolong berubah menjadi fakta di pagi buta.
"hidup ini bukan rangkaian kemustahilan, kan?" (*PRIE GS)

dan di bumi yang sama ini kami berpijak,
di kolong langit yang sama kami bernaung.
kami punya jutaan mimpi, dan milyaran angan.
yang tidak hanya kami citrakan dalam pejaman mata,
namun juga kami usahakan dalam realita.
angan kami tak serupa, namun beraneka.
mimpi ini kami gantungkan, tinggi, setinggi tangan kami bisa mengaitkannya,
kami tidak pernah gentar,

dan teman kami pernah bilang,
"gantungkan cita-cita kamu setinggi langit, setidaknya kalau kamu jatuh, kamu pernah melihat bintang" (*Deno Yudha)

namun tak jarang kami terjatuh,
terjatuh bahkan saat kami berada pada titik kulminasi.
kami terjatuh sejatuh-jatuhnya, sesakit-sakitnya.
ya, kami memang melihat bintang itu, menari indah dalam konstelasi,
namun tetap saja rasanya sakit,

dan disitulah kami berada saat itu,
tersungkur dalam lembah kesuraman,
tenggelam dalam danau kekecewaan,
terkubur dalam pasir ketidakpastian.

kami penat, kami jengah, kami marah.
dan ada saat kami memutuskan untuk berpaling,
tapi itu malah membuat kami tenggelam makin dalam,
membuat kami terdorong jauh dari tangan Tuhan,

angin berbisik, semesta berucap
"bukankah Allah tidak akan merubah nasib suatu kaum, melainkan kaum itu sendiri yang merubahnya?"(*Q.S. Ar-Ra'du, 13;11)

(bebintang perlahan undur diri, disubstitusi oleh jingga yang menyeruak)

diri ini memang belum sejatinya tangguh
raga ini memang belum sepenuhnya utuh
hati ini masih begitu rapuh
namun kami harus bangun, bangun dari ketidakberdayaan kami,
untuk melihat senyum tertoreh pada orang yang kami kasihi
untuk melihat dada yang membusung pada orang yang kami sayangi

kami tidak ingin,
hanya sekedar menjadi prolog pada opera tak bernuansa,
atau menjadi preambule pada prosa tak beralinea,
apalagi hanya sekedar menjadi intro pada musik tanpa nada.

dan kami pun bangkit,
kami menolak untuk pasrah, membantah untuk menyerah, dan berharap dengan gairah.

"Our greatest glory is not in never falling, but in rising everytime we fall" (*Confucius)

bukankah tidak ada yang namanya berhasil, jika kamu tidak pernah gagal.
ya, kita hanya harus terus berpikir, terus bermimpi, dan terus berlari untuk mengejarnya
tidak peduli kami hanya bisa menghitung satu ditambah satu sama dengan dua,
atau kami telah bisa membedakan antara berpikir dengan otak atau berpikir dengan hati
kami percaya
"kemampuan manusia itu ada batasnya, namun usahanya tidak" (*Ismi Nurhayati)

bukankah kelebihan manusia adalah karena manusia punya akal, pikiran, dan cita-cita?
tidak seperti hewan yang berputar dalam siklus yang itu-itu saja,
hari ini makan, besok dimakan. hari ini kawin, besok melahirkan.
lantas jika kita tidak berpikir dan bercita-kita, kita mau disebut apa?
hanya seonggok daging yang punya nama?

dan sekarang, yang kami butuhkan adalah ini
"Biarkan keyakinan kamu, 5 centimeter menggantung mengambang di depan kening kamu.
Dan sehabis itu, yang kamu perlu cuma kaki yang akan berjalan lebih jauh dari biasanya,
tangan yang akan berbuat lebih banyak dari biasanya,
mata yang akan menatap lebih lama dari biasanya,
leher yang akan lebih sering melihat ke atas,
lapisan tekad yang seribu kali lebih keras dari baja,
dan hati yang akan bekerja lebih keras dari biasanya,
serta mulut yang akan selalu berdoa.
Dan kamu akan selalu dikenang sebagai seorang yang masih punya mimpi dan keyakinan serta mengejarnya,
bukan orang biasa-biasa saja tanpa tujuan, mengikuti arus dan kalah akan keadaan"

(*5 cm, Donny Dirghantoro)

dan pada ujungnya, biar Tuhan yang berkarya,
"manusia itu wajib berusaha, tapi tidak wajib untuk berhasil" (*Muhammad Azhar)

(matahari pun menyapa pagi)

dan disini, saat ini, dibawah siraman mentari pagi
kami bersaksi, bahwa kami akan terus berlari meraih angan dan mimpi,
berlari, sejauh kaki kami masih bisa menyentuh bumi.
sebanyak keringat kami masih bisa membasahi,
dan berlari, secepat pikiran kami masih kuasa berrotasi.

just beat your best, then let God play the rest.

we'll fight, then we will always win (*mereka yang percaya, bahwa 'tidak mungkin' itu tidak pernah ada)

ya, kami percaya kami bisa.

karena kami, bukan cuma segenggam angan tak bertujuan..


(sebuah catatan yang dibuat menjelang pagi, di atap genting tanpa alas kaki, bermandi cahaya bintang)



Preambule


Saya akan singkat saja.

Mempunyai sebuah blog adalah cita-cita saya dari dulu. Sejauh yang bisa saya ingat, kelas 3 SMA adalah awal saya jatuh hati pada kegiatan menulis (well, not literally ‘menulis’ like with pen and paper, you know what i mean). I published some of my notes in my Facebook page, and some of my facebook friends seemingly liked it. Since then, in order to express my so-called-passion in writing, and as an enjoyment to my own self, I’ve decided to make a blog of my own. Tapi nggak pernah kesampaian.

Sampai akhirnya, setelah beratus-ratus template blog yang saya seleksi, beragam tema yang saya kombinasi, dan beraneka ide yang saya manifestasi, TADAAA, blog ini pun akhirnya mewujud dan memberi salam pada semesta maya. YAY (*menyemangati diri sendiri).

Blog ini saya beri tajuk ‘Fadlan’s Fingerprints’ yang kurang lebih maknanya adalah karya-karya yang saya hasilkan (maupun yang saya kutip) oleh jemari saya. Blog ini rencananya hendak saya isi dengan daily life saya, life wisdom yang saya temui, kepingan-kepingan kecil hidup yang remeh namun berharga, kutipan-kutipan maupun puisi/syair yang saya kutip dari orang lain, dan lain-lain yang sampai saat saya menulis ini pun saya masih belum tahu apa. Selain itu, seperti yang anda bisa lihat di paragraf pertama, saya mungkin akan sering mencampur-aduk posting saya dengan Bahasa Indonesia maupun English. I’m still learning English and my Bahasa Indonesia is not getting better. So, I’m going to practice and express both in this blog. Hope you don’t mind. :D

So, that is all. Semoga anda bisa menikmati apapun yang tersaji dalam halaman blog ini. Shout your comment out at the shoutbox. See you later on my next posting.

Name is Fadlan by the way, Fadlan Mauli Gozali for full.

Warmest Regards,

"Today is where your book begins"
-- Natasha Beddingfield in Unwritten