Kamu percaya sama yang
namanya keranjang dharma? Saya percaya. Saya percaya bahwa semua usaha manusia,
semua kebaikan perorangan, dihitung dan terkumpul dalam sebuah tempat suci yang
hanya-Tuhan-yang-tahu. Manusia -beberapa- menamainya Keranjang Dharma. Walaupun namanya keranjang, tapi saya tidak yakin
kalau bentuknya seperti 'keranjang' seperti yang kita kenal di sini. Saya
percaya bahwa setiap orang memiliki keranjang dharmanya masing-masing. Keranjang dharma ini memuat semua tetes
keringat usaha kita, setiap butir ketulusan hati kita saat berbuat kebaikan,
setiap remah pertolongan kita kepada orang lain yang membutuhkan, dan
mengembalikannya kepada kita pada saat yang tepat.
Konsepnya begini, setiap
usaha, doa, kebaikan kita, satu per satu masuk dalam keranjang dharma tadi.
Sedikit demi sedikit. Tidak ada satu pun kebaikan yang tidak ditampungnya.
Semua diperhitungkan, sekecil apapun itu. Keranjang
dharma yang kita punya perlahan demi perlahan mulai terisi penuh oleh semua
usaha dan kebaikan kita, menunggu untuk dibalas. Hingga akhirnya keranjang
dharma itu penuh hingga mencapai permukaan. Namun bukan berarti keranjang itu
tak mampu lagi menampung hal-hal baik yang kita lakukan. Ketika ia sudah penuh,
dan kita tetap berusaha, melakukan hal baik, maka saat itulah keranjang yang
sudah penuh itu luber, dan tumpah. Saat keranjang dharma kita tumpahlah saat
kebaikan kita terbalaskan, berbuah manis pada kita. Saat hidup kita yang
biasa penuh dengan halangan menjadi secara tiba-tiba mudah dan berjalan lancar
seperti ada tangan tak terlihat dari atas yang menyingkirkan halangan-halangan
tersebut bahkan tanpa butuh usaha lebih dari kita. Saat itu yang saya percayai
saat keranjang dharma itu tumpah, karena terlalu penuh dengan usaha dan
kebaikan kita.
Contohnya seperti ini,
pernah kamu sering membantu teman belajar dan ketika kamu mengalami hari yang
buruk dan kamu lupa belajar untuk ujian besok namun secara mendadak ujian besok
tidak jadi? Atau pernah kamu menemani teman yang sedang sedih dan suatu waktu
saat kamu menunggu bikun tiba-tiba ada teman kamu yg lain naik motor mengajak
bareng? Atau mungkin pernah suatu waktu kamu memberi uang pada pengemis dan
tahu-tahu besoknya kamu diberi uang lebih oleh ayahmu untuk jajan? Apakah itu
keberuntungan? Saya rasa bukan. Saya
sangat yakin bahwa saat-saat itu adalah saat keranjang dharma kita sudah
terlalu penuh dan tumpah. Saat usaha dan kebaikan yang sering kita berikan pada
orang lain terbalaskan pada kita pada akhirnya dengan cara yang sama sekali
tidak kita duga.
Maka dari itu, mari
kita terus berusaha dan berbuat kebaikan serta memberikan pertolongan untuk
membuat keranjang dharma kita semakin penuh. Jangan takut untuk merugi saat kita berbuat baik. Karena Tuhan sudah
mempersiapkan balasan yang lebih manis dan lebih indah dengan cara yang dia
suka, saat kita bahkan tidak mengharapkan apa-apa.