![]() |
| Sunset in Pulau Tidung, Kepulauan Seribu |
Jejak-jejak jingga perlahan mulai menyusur langit. Meluas.
Meretas batas. Kaki langit tersamar seolah melebur dalam satu dimensi. Bukan
dimensi laut, bukan dimensi langit. Dimensi senja. Saya terpana.
Lingkaran cahaya melembut mengiba mata untuk menatap, dan
terpikat. Hati mendadak melankolis, dan jiwa serentak romantis. Helaan nafas seolah
mengekspirasi bukan hanya karbon dioksida, melainkan semua beban imajiner yang
sepanjang hidup mengendap di kepala, di badan, di perasaan.
Langit tidak
berpesta sore ini. Hanya setajuk pentas biasa yang dilakoni setiap kali bumi berrotasi.
Namun saya yang terbiasa akan ritme monoton alam bentukan manusia merasa tak
cukup hanya berseru takjub, mengagumi khidmat, hingga mengucap kesucian Yang
Maha Tinggi, akan potret semesta yang saya saksikan ini kali.
![]() |
| Another Shot of Sunset in Pulau Tidung, Kepulauan Seribu |
Saya selalu bertanya mengapa manusia selalu terkesima akan
matahari terbenam. Akan sunset.
Seolah ia adalah suatu harta yang patut diburu dengan bekal ketebalan lensa dan
keterampilan talenta. Betapa manusia kontan memuji, mengecap keindahan, merekam
jejak dua dimensi, akan fenomena partikular ini. Hingga pada suatu masa sunset itu datang menyapa saya. Meninggalkan
saya dalam pesona, dalam kata yang tak kunjung keluar lidah. Membuat saya
mengerti.
Uraian warna jingga, dan sebaran sinar surya kala terbenam
ini memang magis. Menjerat semua raga dalam decak kagum yang merefleksikan
diri. Menyejukkan hati. Seolah berkata kehidupan memang keras, namun akan
selalu ada yang melembutkan jika kamu sempat berhenti dan menatapi sekeliling.
Menyadari tarian alam yang merehabilitasi jiwa. Membuatnya terlahir kembali.
Deskripsi sederhana saya adalah, surya yang tenggelam kala senja ini,
mewaraskan. Mewaraskan diri dari kegilaan yang sehari-hari kita konsumsi. Dari
kegilaan dalam bentuk tenggat waktu yang mengejar, tanggung jawab yang
menghinggapi, pekerjaan yang melambaikan tangan. Kesibukan artifisial.
Saya
beruntung bisa menghirup kewarasan ini walau sejenak, mengumpulkannya,
mengkonversikannya menjadi energi untuk mengawali hari yang sama sekali baru.
Belaian angin, guncangan ombak, pelukan lautan, nuansa petang,
peraduan surya, gradasi jingga, penantian pantai. Senja saya sempurna.
Ingin rasanya saya genggam momentum ini. Saya dekap erat,
saya jaga, saya masukkan kantung. Menanggalkan semua rekam jejak, semua
identitas yang membayangi, semua rasa yang membuncah, semata untuk mengabadikan
keanggunan mentari kala senja ini dalam hati saya, menyimpannya dalam-dalam.
Untuk nanti saya habiskan.
Bersamamu.
Fadlan Mauli Gozali


