Showing posts with label novel review. Show all posts
Showing posts with label novel review. Show all posts

Saturday, March 21, 2015

Teman Imaji; A Review



As a person who knows Mutia quite well, it's safe to presume that Teman Imaji is a grand milestone of her ultimate dream; becoming a writer (or "a person who writes", quoting Kica in Teman Imaji). She always made me fascinated by her writings, which spread around her Facebook notes, tumblr, or her blog. To have her ideas compiled in one single physical book is pretty much a felicity.

Teman Imaji is preferred to be called as 'film pecah' (I have no idea what it is called in English), rather than a novel. It is called so since Teman Imaji is constructed by series of moments that unexpectedly create a plot from start to end. Most of the contents are dialogues, some thoughtful ones. The central attention goes to Kirana Annisa (Kica), and her ordinary yet meaningful college life. Kica was born in Bogor, a so called City of Rain, grew up there, and went to Universitas Indonesia for college. Her absurd frame of thinking and affection for rain made her weird and kind of hard to make friends. But of course she eventually did, there were Adit, Banyu, Rasya, and also Faza (I am #teamFaza). In attempts of creating purpose through a confusing college life, she found love, in a form of a living imaginary friend whose weirdness compatible with hers.

Teman Imaji is a real sweet book. Mutia knows how to play with words (Dang, she really goods at it). She redefines our common understanding of many things, one of the example is about finding "the right one". I'm in awe of how she describes rain as a beauty worth cherishing. I personally never get the idea of a beautiful rain, or rain that resonances memory, or whatever. I'm just the guy who, when the rain comes, just get wet (but at least Mutia tried her best to convince me). Kica's love-story moments usually including pouring rain as a background, and I can tell that it was ... quite cute.

What will amaze you more is that Teman Imaji also has several original songs to listen to while reading its pages. Wholeheartedly composed by its very own author, Mutia herself. How awesome is that? I thought only Dewi Lestari could pull off such thing. You can check her soundcloud to listen to her dazzling songs. I know for sure she made this Teman Imaji with a heartfelt. That is what I love the most from Teman Imaji. This piece is so honest.

So yeah, read the pages of that sweet Teman Imaji, while listening to its enchanting music, with the rain pouring down outside your window, and a sip of coffe or two,


you’ll be falling in love.




p.s.: Mutia stole the name Kirana from me, since Kirana is my ..ehm.. ‘ imaginary one’. I even made a cheesy poem for Kirana in here.

Tuesday, October 23, 2012

Supernova; Ksatria, Putri, dan Bintang Jatuh, dan Mengapa Saya Jatuh Cinta Padanya (A Novel Review)


Supernova; Ksatria, Putri, dan Bintang Jatuh
Penulis: Dewi ‘Dee’ Lestari



Saya mengetahui novel ini dari guru Bahasa Indonesia saya semasa SMA dulu (Bpk. Agus Sunarya). Beliau pernah bilang novel ini merupakan novel sastra-fiksi-ilmiah yang cukup kuat di era awal 2000-an. Berbekal dari informasi yang saya dapat, akhirnya saya membaca novel tersebut untuk membuktikan apa yang guru saya katakan. Benar saja, saya langsung jatuh cinta pada halaman pertama.

Engkaulah getar pertama yang meruntuhkan gerbang tak berujungku mengenal Hidup.
Engkaulah tetes embun pertama yang menyesatkan dahagaku dalam cinta tak bermuara.
Engkaulah matahari Firdausku yang menyinari kata pertama di cakrawala aksara.

Kau hadir dengan ketiadaan.
Sederhana dalam ketidakmengertian.
Gerakmu tiada pasti.
Namun aku terus di sini.
Mencintaimu.
Entah kenapa.*

Puisi pembuka di awal buku saja sudah menawan hati saya. Gaya bercerita khas Dee yang lebih fokus pada momen sungguh mengaduk perasaan. Saya terpikat dengan potongan-potongan puisi yang disisipkan hampir di setiap bagian novel. Keterkaitan antar tokoh sama sekali tidak bisa ditebak namun tetap masuk akal. Oh, dan jangan tanya saya betapa saya takjub akan bagaimana Dee membuat teori-teori sains menjadi suatu hal yang membuat kita membacanya karena ingin, bukan karena disuruh guru karena akan ada ujian.

Apakah peluru ini engkau, Ferre?
Yang melubangiku dan kini berkuasa atas hidup mati pikirku?
Semoga ini engkau...
Dengan demikian kasihku mengalir keluar seraya bersorak-sorai.
Berjaya dalam mahligai
Karena hanya kepadamulah kurelakan sisa denyutku
... meregang dalam genggaman seseorang.*

Kalau ditanya buku ini tentang apa, sungguh sebenarnya saya tidak bisa jawab. Cyber avatar, kesadaran nonlokal, puisi-puisi pujangga, rectoverso, perselingkuhan, persahabatan, cinta yang membebaskan, pelacuran, bahkan percobaan Schrodinger pun ada dalam buku ini (Sakti, kan?). Saya paling suka bagaimana Dee membuat suatu perselingkuhan sebagai sesuatu yang dinilai bukan atas hakikat benar atau salah. Cara Dee menjelaskan orang ketiga sungguh tidak akan membuat kita bisa menyalahkan siapa-siapa. Semata hanya cinta, pada waktu, orang, dan kondisi yang tidak semestinya.

Lantas bagaimana dengan teori-teori dan penjabaran sains yang banyak tertuang dalam buku ini? Justru disitulah seninya. Tak banyak (bahkan mungkin tak ada, CMIIW) penulis yang bisa mengkolaborasikan kisah cinta dengan fisika kuantum, namun dengan apik penulis idola saya ini berhasil melakukannya. Dan walaupun ada beberapa (banyak) yang saya tidak mengerti, saya dapat merasakan esensi dari pernyataan-pernyataan sains yang terkandung. Meskipun banyak yang mengatakan novel ini kurang ‘membumi’, namun saya jujur lebih suka istilah ‘menghargai intelektualitas pembaca’.

Ini bukan kisah cinta biasa, bukan kisah cinta ecek-ecek dimana adinda-adalah-kekasih-kakanda-walau aral-melintang-kan-ku-terjang. Kisah cinta prominen yang dirangkum secara jenius dengan kata-kata yang mempesona, syair yang memikat, teori yang mencerahkan, dan tokoh-tokoh yang membuat jatuh cinta. Jika kamu mengaku sebagai penggemar Dee tapi belum pernah baca novel ini? Silahkan pintu exit ada di bagian kanan depan. Malahan, jika kamu adalah penggemar sastra namun buku ini terlewatkan? Maka kamu mungkin harus mencerna lagi apa yang kamu maksud dengan sastra. Dan jika kamu adalah pembaca jurnal ilmiah, maka novel ini tidak kalah memberikan ilmu dari apa yang kamu dapat dari springerlink atau sciencedirect. Novel ini adalah novel favorit saya sepanjang masa. Pokoknya, baca deh!

Saya rasa cukup itu saja. Selamat membaca! 

P.S.: * kutipan salah satu puisi dalam novel Supernova; KPBJ
P.S.S.: Image diambil dari goodreads
P.S.S.S.: Ini adalah review novel pertama yang pernah saya buat. Jelek? Biarin. Emang saya pikirin. :P

Fadlan Mauli Gozali