Supernova; Ksatria, Putri, dan Bintang Jatuh
Penulis: Dewi ‘Dee’ Lestari
Saya mengetahui novel ini dari guru Bahasa Indonesia saya semasa SMA dulu
(Bpk. Agus Sunarya). Beliau pernah bilang novel ini merupakan novel
sastra-fiksi-ilmiah yang cukup kuat di era awal 2000-an. Berbekal dari
informasi yang saya dapat, akhirnya saya membaca novel tersebut untuk
membuktikan apa yang guru saya katakan. Benar saja, saya langsung jatuh cinta
pada halaman pertama.
Engkaulah getar pertama yang meruntuhkan gerbang tak berujungku mengenal Hidup.Engkaulah tetes embun pertama yang menyesatkan dahagaku dalam cinta tak bermuara.Engkaulah matahari Firdausku yang menyinari kata pertama di cakrawala aksara.Kau hadir dengan ketiadaan.Sederhana dalam ketidakmengertian.Gerakmu tiada pasti.Namun aku terus di sini.Mencintaimu.Entah kenapa.*
Puisi pembuka di awal buku saja sudah menawan hati saya.
Gaya bercerita khas Dee yang lebih fokus pada momen sungguh mengaduk perasaan.
Saya terpikat dengan potongan-potongan puisi yang disisipkan hampir di setiap
bagian novel. Keterkaitan antar tokoh sama sekali tidak bisa ditebak namun
tetap masuk akal. Oh, dan jangan tanya saya betapa saya takjub akan bagaimana
Dee membuat teori-teori sains menjadi suatu hal yang membuat kita membacanya
karena ingin, bukan karena disuruh guru karena akan ada ujian.
Apakah peluru ini engkau, Ferre?Yang melubangiku dan kini berkuasa atas hidup mati pikirku?Semoga ini engkau...Dengan demikian kasihku mengalir keluar seraya bersorak-sorai.Berjaya dalam mahligaiKarena hanya kepadamulah kurelakan sisa denyutku... meregang dalam genggaman seseorang.*
Kalau ditanya buku ini tentang apa, sungguh sebenarnya saya tidak
bisa jawab. Cyber avatar, kesadaran nonlokal, puisi-puisi pujangga, rectoverso,
perselingkuhan, persahabatan, cinta yang membebaskan, pelacuran, bahkan
percobaan Schrodinger pun ada dalam buku ini (Sakti, kan?). Saya paling suka
bagaimana Dee membuat suatu perselingkuhan sebagai sesuatu yang dinilai bukan
atas hakikat benar atau salah. Cara Dee menjelaskan orang ketiga sungguh tidak
akan membuat kita bisa menyalahkan siapa-siapa. Semata hanya cinta, pada waktu,
orang, dan kondisi yang tidak semestinya.
Lantas bagaimana dengan teori-teori dan penjabaran sains
yang banyak tertuang dalam buku ini? Justru disitulah seninya. Tak banyak (bahkan
mungkin tak ada, CMIIW) penulis yang bisa mengkolaborasikan kisah cinta dengan
fisika kuantum, namun dengan apik penulis idola saya ini berhasil melakukannya.
Dan walaupun ada beberapa (banyak) yang saya tidak mengerti, saya dapat
merasakan esensi dari pernyataan-pernyataan sains yang terkandung. Meskipun
banyak yang mengatakan novel ini kurang ‘membumi’, namun saya jujur lebih suka
istilah ‘menghargai intelektualitas pembaca’.
Ini bukan kisah cinta biasa, bukan kisah cinta ecek-ecek
dimana adinda-adalah-kekasih-kakanda-walau aral-melintang-kan-ku-terjang. Kisah
cinta prominen yang dirangkum secara jenius dengan kata-kata yang mempesona,
syair yang memikat, teori yang mencerahkan, dan tokoh-tokoh yang membuat jatuh
cinta. Jika kamu mengaku sebagai penggemar Dee tapi belum pernah baca novel
ini? Silahkan pintu exit ada di bagian kanan depan. Malahan, jika kamu adalah
penggemar sastra namun buku ini terlewatkan? Maka kamu mungkin harus mencerna
lagi apa yang kamu maksud dengan sastra. Dan jika kamu adalah pembaca jurnal ilmiah,
maka novel ini tidak kalah memberikan ilmu dari apa yang kamu dapat dari
springerlink atau sciencedirect. Novel ini adalah novel favorit saya sepanjang
masa. Pokoknya, baca deh!
Saya rasa cukup itu saja. Selamat membaca!
P.S.: * kutipan salah satu
puisi dalam novel Supernova; KPBJ
P.S.S.: Image diambil dari
goodreads
P.S.S.S.: Ini adalah review
novel pertama yang pernah saya buat. Jelek? Biarin. Emang saya pikirin. :P
Fadlan Mauli Gozali
