Ada jeda ketidakpercayaan saat pintu ini saya buka. Setitik demi setitik perasaan perlahan meluruh, meninggalkan saya dalam segenap memori tentang serangkai masa. Saat titik kulminasi ini menghantui saya, mentranformasi saya dalam fasa metastabil. Dan bersamaan dengan terbukanya pintu ruangan ini, saya selesai.
Hanya saya dan Tuhan yang tau betapa 10 Januari ini sudah memahat jejaknya di dalam sel otak saya. Perasaan ini terlalu berharga jika hanya dibilang membahagiakan, karena sesungguhnya ini lebih dari itu.
Seminggu sebelum 10 Januari datang, sahabat saya Niken mengingatkan dengan sangat bijak bahwa suatu keberhasilan bukanlah hanya manifestasi dari usaha horizontal kita terhadap semesta, tetapi juga usaha vertikal kita terhadap Yang Menciptakannya. Saya terpekur setiap lewat tengah malam selepas nasihat Niken, memohon pada Sang Pemberi Kemudahan untuk memberikan saya keberdayaan untuk menjalani 10 Januari ini dengan izinNya, dengan ridhoNya. Ibu, Bapak, dan kedua kakak saya menjadi orang yang paling tak bosan saya mintai doa, saya minta restunya. Mereka pun dengan cinta tak bersyaratnya senantiasa mengalirkan doa untuk saya, memberi saya pesan untuk tetap tenang, bahkan hingga membantu saya berpuasa.
Pelbagai doa juga datang saat saya menginjak umur ke-22 pada lima hari sebelumnya. Tak lupa saya mintakan doa pada semua teman, rekan, dan sahabat untuk kelancaran dan kemudahan 10 Januari ini. Saya percaya bahwa semakin banyak yang mendoakan, maka semakin besar pula probabilitas doa itu akan terkabul. Maka hampir semua yang saya kenal saya minta untuk mendoakan saya.
Tumpukan buku, materi, dan catatan-catatan yang mengendap di pojokan lemari mulai kembali saya jamah. Mencoba menggali kembali ilmu yang terkadang sudah terkubur tak menumbuh bekas. Mata saya terpejam lebih sedikit dari biasanya. Dalam mimpi pun 10 Januari ini selalu datang. Seolah memberi peringatan untuk menyiapkan diri sebaik mungkin, meskipun waktu, usaha, dan waktu tidur yang harus dikorbankan. Hidup saya tidak tenang.
Hingga akhirnya 10 Januari ini datang juga. Luapan doa dan semangat mengisi jejaring sosial, hinggap pada telepon seluler, datang melalui panggilan suara. Berbekal penampilan luar biasa rapi saya mencium tangan Bapak dan Ibu saya. Bergegas menuju hari pembuktian. Lembaran tugas akhir ini saya kaji kembali, meskipun saya tau tak akan ada gunanya. Jantung saya berdegup terlalu kencang. Pikiran saya terlalu penuh dengan kemungkinan pertanyaan yang mungkin terujar.
Giliran saya pun tiba. Saya menghubungi Ibu saya sekali lagi, memohon doa restu terakhir kali untuk memasuki ruang juang tempat saya akan mempertahankan tugas akhir yang saya perjuangkan selama tujuh bulan. Semua kawan yang ada saat itu menyemangati saya. Di dalam ruangan sudah tampak pengajar-pengajar luar biasa yang kebaikan dan keikhlasannya dalam mengajar hanya bisa dibalas oleh Yang Maha Pemurah. Layar proyektor menampilkan presentasi yang akan saya bawakan. Kali ini hanya tinggal saya. Tinggal saya yang harus berjuang membuktikan gelar sarjana ini bisa saya jemput hari ini, saat ini, pada momen ini.
Bismillahhirrahmaanirrahiim
Showing posts with label about me. Show all posts
Showing posts with label about me. Show all posts
Wednesday, January 30, 2013
Saturday, August 27, 2011
A letter from Bovenkarspel
disaat dunia berjalan dengan berantakan;rasa takut dan khawatir berserakan di jalan;orang-orang seolah pergi, cuma ninggalin bayang-bayang.saat Fadlan bahkan pengen nonjok figur yang Fadlan liat saat Fadlan ngaca.saat mimpi dan cita-cita bukan lagi harapan, tapi beban dan paksaan.saat fadlan bahkan nggak tahu tempat mana yang sebenarnya jadi tujuan pulang,Fadlan masih punya aku, sahabat kamu.
Surat itu sampai ke rumah saya, dari sebuah kota nun jauh di Belanda sana, Bovenkarspel namanya.
Seorang sahabat yang bahkan secara geografis sangat jauh namun masih tetap ingat akan saya dengan mengirimkan surat dalam bentuk fisik, bukan elektronik.
Kata-kata ini akan selalu, selamanya, saya inget dan pahat baik-baik dalam hati dan pikiran saya.
Ya, sebagai tanda pengingat bagi saya, bahwa saya selalu punya seseorang yang membimbing saya dari depan, mendorong saya dari belakang, dan berjalan bersama saya bersebelahan.
Terima kasih, sahabatku :)